Ramai Diperbincangkan Dunia, Sebetulnya Brexit Itu Apa Sih?

Categories: blog

Halo gays, apa kabar nih? Okey, seminggu yang lalu gue sempat nulis artikel tentang dasar ilmu ekonomi. Nah, kali ini gue pengen bahas topik yang nggak jauh berbeda, yang sempat bomming diperbincangkan khalayak ramai. Wah, kira-kira apaan ya, melihat judulnya lo pasti penasaran dong?

Maybe, sebagian lo yang doyan mantengin berbagai siaran tv atau lo yang aktif di menggunakan sosmed pasti nggak asing lagi dengan berita tentang brexit, iyakan? Bahkan berita ini sempat menjadi top worldwide trending di twitter lho. Tak sampai disitu, meme-nya pun bermunculan dimana-mana, sampai perdana menteri Inggris David Cameron menyatakan mengundurkan diri hanya karna menghetaui hasil keputusan ini, wow nggak?

Bagi lo yang awam seketika terlintas di benak lo, apaan sih brexit itu, kok pada heboh banget? Tak perlu khwatir guys, pada artikel ini gue akan jelasin kok, apa itu brexit? So, sederhananya brexit itu adalah singkatan dari Britain Exit yang mengacu pada hasil pemilu referendum di negara Inggris yang memutuskan ingin keluar dari persatuan Uni Eropa. Sebenarnya, banyak pihak yang sama sekali nggak menduga bahwa hasil dari referendum ini betul-betul menjadi momentum keluarnya Inggris dari Uni Eropa?

Nah, mulai dari situ, bermunculan lah isu di berbagai sosial media, di antaranya :

  1. Ada pemberitaan bahwa masyarakat Inggris banyak nggak tau latar belakang voting tersebut menjadi penentuan posisi Inggris di Eropa dan baru nyari tau “Apa itu Uni Eropa” Impactnya, setelah voting ditutup. Beberapa pemeberitaann di Inggris mengatakan, bahwa warga Inggris menyesal dengan pilihan voting yang mereka lalukan.
  2. Dengan out Inggris dari Uni Eropa, dapat berpotensi munculnya krisis ekonomi yang meluas, baik bagi Inggris, seluruh Eropa, bahkwan bisa ikut mengorbankan negara-negara lain.
  3. Hasil pemilihan voting untuk keluar dari Uni Eropa ini dilatar belakangi isu rasialis orang-orang Inggris yang takut kebanjiran pengungsi dari timur tengah terutama dari Syria karena kebijakan Uni Eropa yang cenderung terbuka dengan para pengungsi. Bahkan beberapa jam setelah hasil voting diumumkan, ada beberapa insiden rasialis terjadi di berbagai lokasi di Inggris yang menuntut para pendatang di Inggris untuk segera keluar dari negaranya.

Wah, kok jadi pelik begitu ya ceritanya, masa iya sih banyak warga Inggris yang asal voting gitu aja terus baru tau konsekuensi nya setelah hasi voting diumumkan. Secara logika, jelas hal tersebut diluar nalar kita. Iya nggak? Pertanyaan selanjutnya, bener nggak sih referendum tersebut hanya di latar belakangi isu rasialis lantaran warga Inggris banyak yang rasis dan nggak mau banyak pendatang di negaranya. Dan apa bener keputusan ini akan berdampak dan merugikan banyak pihak, bahkan mungkin sampai k Indonesia. Jika bener, tentu bisa gawat dong? So, cerita sebenarnya gimana sih, penasaran kan?

Santai, pada tulisan ini gue akan ceritain kok ke lo bagaimana latar belakang serta fenomena itu terjadi sampai bisa seheboh ini. Okey, buat lo yang punya waktu luang, gue sarani untuk lo baca sampai tuntas tulisan ini, hitung-hitung buat nambah wawasan lo deh. So, bagi lo yang udah penasaran banget, yuk langsung simak aja ceritanya.

Apasih Latar Belakang Masalah Brexit Ini?

Untuk dapat memahaminya, mau nggak mau kita harus flashback jauh kebelakang yaitu, pada bulan april 1945. Jadi, pada saat itu perang dunia baru aja selesai. Nazi Jerman menyerah dan dinyatakan kalah pada Inggris, Perancis, Uni Soviet dan Amerika Serikat. Pada saat itu, negara eropa bisa dibilang dalam keadaan porak poranda. Hingga, lebih dari 20 juta orang tewas, kota-kota megah jadi puing reruntuhan, perekonomian lumpuh, dapat dikatakan keadaan saat itu sangatlah mencekam. Namun, suasana seperti ini bukanlah hal baru di benua Eropa. Sebab, sebelumnya Eropa juga sudah pernah mengalami perang 30 tahun 1618-1648 perang penerus takhta Spanyol 1701-1714 perang napoleon 1803-1815 perang dunia I 1914- 1918 dan tentu nya masih banyak perang-perang lainnya yang memakan jutaan nyawa, menghancur leburkan ratusan kota-kota bersejerah di Eropa. Perang besar-besaran, pembantaian besar-besaran dan kehancuran besar-besaran adalah hal wajar dan sudah jadi tradisi ratusan tahun dalam sejarah benua Eropa.

Di akhir perang dunia kedua ini barulah muncul ide, harapan, bahwa semua sejarah tradisi perang itu dapat dimusnahkan. Banyak yang berspekulasi bahwa di masa depan Eropa akan bersatu, berdagang dapat secara sehat, bekerja sama dalam ekonomi, transportasi dan saling mendukung secara politik, bukannya saling membunuh seperti ini. Hinggah akhirnya muncullah ide untuk mempersatukan Eropa, ide tersebut akrab dengan sebutan European Dream.

Sejatinya, persatuan ini bukanlah persatuan kekuasaan dengan penaklukkan militer seperti yang dilakukan Napoleon dan Hitler, akan tetapi persatuan dengan kerja sama dan perjanjian. Persatuan ini nantinya di harapkan dimulai secara bertahap, perlahan, dengan tujuan jelas yaitu persatuaan Eropa yang damai dan saling mensuport. Nah, tahap pertama dalam menggapai mimpi itu diawal dari sektor yang paling mudah, yaitu persatuan ekonomi. 

Puncaknya pada tahun 1952 negara-negara seperti belanda, belgia, perancis italian dan jerman barat berhasil menciptakan European Coal and Steel Community atau ESCS. Negara tersebut berhasil menyatuhkan semua pertambangan industri dan batubara. Tak cukup disitu mereka juga menciptakan European Economic Community atau EEC yang bertujuan menyatukan ekonomi negara-negara lainnya. Terciptanya EEC, semua komoditas barang dagangan apapun bebas diperjual belikan di antara semua negara-negara tersebut, seolah-olah tidak ada batas negara, tidak ada tarif, tidak ada pajak, tidak ada regulasi riber dan ijin ini itu. Semua jalur ekonomi dibuka secara bebas agar setiap negar di bawah nangungan EEC dapat membantu ekonomi satu sama lain.

Berdirinya EEC lantas membuat negara-negara lain mulai tertarik untuk bergabung. Mereka berpikir dan merasa akan jauh lebih mudah untuk menjual barang-barang produk negara mereka, maupun membeli barang-barang dari negara-negara anggota EEC kalau mereka juga bergabung dan menjadi anggota EEC, tentu membuat EEC meningkat drastis, endingnya ditahun 1973 Inggris memutuskan untuk bergabung dengan EEC.

Terbentuknya Uni Eropa

Sesaat perang dingin berakhir, Uni Soviet lantas memutuskan untuk bubar. Nah, bubarnya Uni Soviet Eropa langsung menaruh asa akan kecerahan masa depannya. Negara-negara anggota EEC akhirnya mendirikan Uni Eropa. Saat itu lah, mimpi persatuaan Eropa di bidang politik benar-benar dilaksanakan. Dan sejak saat itu EEC memutuskan mengganti nama menjadi Uni Eropa.  Persatuan yang di praktekkan berubah dari integrasi ekonomi menjadi integrasi ekonomi dan politik secara resmi.

Integrasi ekonomi dilanjutkan dengan diperkenalkannya mata uang Euro di tahun 2002, dengan menggantikan hampir semua mata uang negara-negara di Uni Eropa. Jadi, dari yang tadinya mata uang di Eropa ada macem-macem seperti, Perancis dengan mata uang Franc, Belanda dengan mata uang Gulden, Jerman dengan mata uang Deutsche Mark dan lain sebaginnya.

Nah, sejak tahun 2002 Uni Eropa berhasil menyatukan 1 mata uang yaitu, Euro. Walaupun sedemikian, ada satu negara yang bandel dan nggak mau menyatukan uanganya, ada yang tahu negara apa? Yaps, tepat sakali Inggris tetap kekeuh mempertahankan mata uangnya yaitu, Pounds Sterling. 

Disisi lain tahun 1990, mulailah penghapusan perbatasan antar negara-negara Eropa dalam Konvensi Schengen. Dengan adanya perjanjian tersebut, warganegara anggota Konvensi tersebut bebas memasuki negara anggota lain seolah-olah tidak ada perbatasan negara. Konvensi ini adalah perwujudan salah satu aspek mimpi Eropa yang lain seperti, kekebasan transportasi dan pergerakan warga Eropa.

Kebijakan ini juga valid untuk warganegara non-Eropa yang mendapat visa di salah satu negara Schengen. Misalnya, seorang warganegara Indonesia yang mendapat visa untuk kuliah di universitas Jerman bisa berlibur ke Perancis tanpa pusing urusan perjanjian hanya dengan bermodal visa mahasiswa tersebut.

Ketika Uni Eropa berdiri, konvensi ini menjadi dasar kebijakan perbatasan Uni Eropa. Seiring pertambahan anggota, semakin banyak negara-negara di Eropa yang menjalankan kebijakan Schengen ini. Kecuali 2 negara yaitu, Inggris dan Irlandia. Namun, biarpun mereka tidak bergabung dalam kebijakan ini, kebijakan imigrasi mereka tetap diatur oleh Uni Eropa. Sampai pada akhirnya, integrasi politik di Eropa memuncak hingga diciptakannya posisi Presiden Uni Eropa di tahun 2009.

Hubungan Inggris Dengan Uni Eropa

Nah, sekarang baru deh kita masuk ke dalam hubungan negara Inggris dengan Uni Eropa. Kenapa sih Inggris sampai bikin referendum dan pemilu ke rakyatnya untuk memisahkan diri dengan Uni Eropa? Sebetulnya ada masalah apa? Bukannya  European Dream itu bagus ya untuk mensejahterakan seluruh negara di Eropa? Ternyata eh ternyata konflik mulanya berawal dari konsep European Dream itu sendiri lho. Percaya nggak?

Nah, buat membuktikannya mari kita tinjau dari sisi sejarah kebijakan luar negeri Inggris. Jadi, selama beraba-abad mulai dari jaman masih kerajaan Inggris, posisi politik Inggris demen berubah-ubah. But, bukan berarti nggak ada yang konsisten ya. Apaan tuh? Inggris sejak dahulu selalu dalam posisi untuk mencegah terjadinya penyatuan Eropa. Wah masa sih kayak gitu? Coba deh lo telusuri kronologi sejarah perang di Eropa.

Terlebih ketika Dinasti Habsburg di Austria dan Spanyol mendominasi Eropa, Inggris buru-buru mendukung Perancis dan musuh-musuh Austria lainnya untuk mengimbangi jangan sampai ada 1 kekuatan yang dominan. Ketika Perancis jaman Napoleon mulai mendominasi Eropa, Inggris malah membantu Prussia dan Jerman supaya Perancis nggak jadi pemimpin di Eropa. Ketika Jerman mau mulai mendominasi Eropa pada Perang Dunia 2, lagi-lagi Inggris berbalik menyokong Perancis dan sekutu untuk mencegah 1 kekuatan superpower yang menguasai Eropa. Kok gitu ya? Kenapa sih Inggris nggak mau ada 1 kekuatan yang mendominasi Eropa.

Menurut dugaan gua pribadi sih, Inggris khawatir kalau ada siapapun yang berhasil mendominasi Eropa, berarti akan menjadi kekuatan yang sanggup untuk mendominasi Inggris. Walaupun untuk konteks sekarang, alasan ini masih bersifat subjektif, tapi dalam sejarah kita bisa melihat tradisi bahwa selama berabad-abad, Inggris punya sejarah tersendiri untuk mencegah Mimpi Eropa untuk bersatu. Logika dong?

Oke, itu soal sejarah masa lalu. Terus bagaimana posisi Inggris di masa sekarang? Di masa kini, rupanya tidak sedikit elemen masyarakat di Inggris sendiri yang selama ini merasa dirugikan oleh integrasi politik dan ekonomi Uni Eropa. Lho kok bisa gitu? Bukannya tujuan Uni Eropa itu untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain? Tujuannya sih gitu, tapi dalam pelaksanaannya banyak yang menurut sebagian kalangan di Inggris itu tidak fair dan sangat merugikan masyarakat Inggris.

Contohnya nelayan-nelayan di pantai timur Inggris, yang kini harus merelakan nelayan-nelayan Perancis, Belanda, Denmark, menangkap ikan di wilayah perairan Inggris. Bukan itu saja, Uni Eropa juga membatasi jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh nelayan-nelayan Inggris di wilayah negaranya sendiri.

Disinilah timbul pertanyaan bagi sebagian kalangan masyarakat Inggris. Kok teritori perairan kita malah jadi diubek-ubek sama negara lain? Kok Inggris jadi seolah-olah gak punya kedaulatan atas negaranya sendiri? Kok jadinya sumber daya alam Inggris dibatasi untuk bisa dicaplok negara Eropa lain?

Contoh lain lagi, Inggris juga ada masalah dalam kebijakan imigrasi. Secara resmi, sebetulnya Inggris tidak pernah bergabung dalam kesepakatan Schengen, sehingga warga negara Uni Eropa yang lain masih harus menunjukkan pasportnya ketika mereka hendak memasuki Inggris. Namun, karena sesama warga Uni Eropa, mereka gak perlu meminta visa lagi. Warga Uni Eropa dari negara manapun bebas tinggal dan kerja di Inggris.

Sebaliknya warga Inggris juga bebas untuk tinggal dan kerja dimanapun di dalam Uni Eropa. Dalam proses asimilasi horizontal ini, ternyata ada sebagian warga Inggris yang merasa bahwa negaranya kehilangan kuasa untuk menyaring warga Eropa yang hendak memasuki Inggris. Nah, pada point inilah, banyak yang berpikiran keluarnya Inggris dari EU dilatarbelakangi isu rasialis.

Tapi di sisi lain, tentu saja tidak semua warga Inggris curiga, skeptis, dan mencibir kebijakan Uni Eropa. Gak sedikit juga warga Inggris yang menikmati integrasi dengan Eropa. Terutama warga Inggris yang bekerja di negara-negara Uni Eropa, para pengusaha dan pedagang Inggris yang mengimport dan export barang dari Uni Eropa.

Sederhananya, persepsi Inggris terhadap keanggotaan Uni Eropa jadi terbelah dua yaitu, pro Uni Eropa dan Euroskeptic. Sejak pemerintahan Perdana Menteri John Major 1990 – 1997 perpecahan 2 pandangan ini terus menghantui pemerintah Inggris.

Namun, berbeda saat pemerintahan Tony Blair 1997 – 2007 isu ini justru sempat mereda. Akan tetapi, saat David Cameron menjadi PM 2010 – 2016 dia mulai merasakan tekanan karena para pemilih partainya Partai Konservatif banyak yang termasuk dalam kubu skeptis terhadap Uni Eropa.

Sampai pada akhirnya di tahun 2013, Cameron yang khawatir kehilangan suara kepada partai UKIP yang anti Uni Eropa, menjanjikan 1 hal yang sangat krusial yaitu referendum tentang hubungan Inggris dengan Uni Eropa. Dengan janji referendum ini, dia berhasil mendapatkan suara untuk partai politiknya.

Sampai akhirnya, demi pemenuhan janji tersebut, referendum dilakukan bulan Juni 2016. Hasilnya seperti yang kita ketahui sendiri, ternyata dimenangkan kubu Euroskeptic yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa. Hasil ini sempat bikin geger kondisi perpolitikan dunia, khususnya di Eropa. Bahkan David Cameron sendiri gua duga nggak nyangka sama sekali kalau hasil pemilunya jadi beneran memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Hal hasil sebagai bentuk tanggung jawab politik, David Cameron memutuskan untuk mengundurkan diri jadi PM Inggris di akhir tahun 2016. Nah, sekarang gua harap lo jadi lebih ngerti tentang BREXIT ini sekaligus nambah pengetahuan sejarah politik dunia, khususnya di Eropa.

Coba deh lo tonton satu dokumentasi speech terakhir dari Nigel Farage selaku perwakilan Inggris yang sejak dulu mengkampanyekan agar Inggris keluar dari EU, greget banget loh speech farewell dari dia :

Sebelum gua akhiri artikelnya, gua cuma mau membahas sedikit tentang argumen kedua kubu ini, boleh la ya? Yuk, kita coba kupas 2 sisi argumen suara politik yang berbeda ini :

  • Argumen pihay stay menginginkan tetap bergabung dengan EU

Argumen utama kubu yang ingin tetap bergabung dengan EU adalah untuk mempertahankan stabilitas ekonomo, perdagangan dan politik. Bagi kubu stay, hengkangnya Inggris dari EU adalah sebuah perjudian besar yang berisiko luar biasa sehingga dapat mengkhawtirkan bagi stabilitas ekonomi negara Inggris.

Di satu sisi, diperkirakan sekitar 3,5 juta lapangan kerja yang dimiliki warga Inggris bergantung pada keutuhan status keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Jadi, kalau sampai Inggris keluar, siap-siap jutaan orang Inggris kehilangan lapangan kerja di Eropa.

Alasan berikutnya adalah standarisasi perjanjian perdagangan dengan seluruh dunia. Selama ini, Uni Eropa telah menjadi jembatan bagi negara-negara lain di luar Eropa untuk bernegosiasi perihal kebijakan perdagangan. Dengan keluarnya Inggris, berarti mau nggak mau Inggris harus berupaya melakukan negosiasi ulang satu per satu ke setiap negara yang selama ini melakukan perdagangan dengan Inggris.

 

Belum lagi perihal berbagai kemudahan yang dimiliki dengan menjadi anggota EU, seperti kemudahan jalur telekomunikasi dan penerbangan, kebebasan berkarir dan menjadi pelajar di negara Eropa lainnya, status keamanan politik yang stabil dengan negara-negara lain, pemerataan standard gaji yang layak, dan masih banyak lagi. Inti dari argumen pihak stay adalah stabilitas.

Ngapain sih cari gara-gara mau keluar dari EU segala, kita udah terlanjur kepalang basah banyak kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan EU, kalo langsung diputus hubungan begitu aja, berbagai hal tidak terduga bisa terjadi secara tiba-tiba dan negara Inggris bakal kelabakan untuk mengurus semua masalah yang muncul serentak secara bersamaan.

  • Argumen pihak leave out dari EU

Sementara itu, argumen utama dari kubu yang menginginkan keluar dari EU adalah dengan mengembalikan kedaulatan Inggris. Satu argumen yang menurut gue cukup kuat dari kubu Leave adalah perlawan terhadap Uni Eropa yang dianggap institusi yang tidak demokratis.

Pertanyaannya, kenapa Uni Eropa dianggap tidak demokratis. Mau tau jawabannya. Karena badan paling berkuasa di Uni Eropa yaitu, komisi Eropa semua anggotanya ditunjuk, bukat dipilih.

Ibaratnya, anggota perwakilan itu ditunjuk seperti lurah di Indonesia, bukan dipilih secara demokratis seperti presiden atau gubenur. Terlebih lagi, anggota komosi Eropa tidak bisa dipecat oleh rakyat dalam pemilu, harusnya kalau demokratis ada pihak yudikatif seperti, MPR yang bisa memecat eksekutif kalau dianggap sewenang-wenang.

Padahal justru komosi Eropa inilah yang menciptakan dan menegakan banyak sekali peraturan yang berlaku di seluruh Eropa, termasuk kebijakan migrasi, wilayah perairan, jatah penangkapan ikan. Tapi kok justru orang-orang yang menentukan kebijakan sepenting ini, bukankah wakil-wakil rakyat yang dipilih demokratis, tapi justru orang yang ditunjuk secara sepihak?

Tak sampai disitu, kubu Leave menekankan bahwa Uni Eropa ini sifatnya terlalu birokratis, tidak flexibel, tidak efisien bahkan diduga banyak melalukan penyalagunaan kekuasaan. Disisi lain, terlalu banyak peraturan yang dikeluarkan oleh komosi Eropa, yang mana dinilai justru mengekang ekonomi dan kehidupan rakyat Inggris.

Masalahnya ada pada ketidakpuasan rakyat Inggris terhadap peraturan manapun tidak akan bisa disalurkan, karena (balik ke argumen sebelumnya para) pejabat di komosi Eropa DITUNJUK bukan dipilih oleh rakyat.

Berarti out dari Uni Eropa adalah kesempatan besar untuk menghapus peraturan-peraturan tersebut, agar menjadi negara yang berdaulat dan mandiri secara ekonomi. Jatoh-jatohnya, pihak leave menganggap justru Uni Eropa lah yang lebih banyak butuh sama Inggris padahal Inggris sebetulnya nggak butuh-butuh amat tuh sama Uni Eropa, hehe becanda kok. Tetap saling membutuhkan kok mereka…

Penutup

Oke deh, demikianlah ulasan singkat dari gua tentang bagaimana fenomena brexit ini. Moga-moga ini dapat menambah pengetahuan umum lo, nambah wawasan juga buat lo, terutama seputar topik sejarah politik dunia. See you next article guys!