Memahami Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia

Categories: blog

Tahukah kamu bagaimana keadaan ekonomi di negara kita tercinta INDONESIA ini? Pada tahun 2017 lalu, Bank Indonesia menyatakan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,05 persen. Angka tersebut sedikit lebih stabil jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2016 yang berada di posisi 5,02 persen. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2018 ini? Nah untuk mendapatkan informasi yang lebih jelasnya lagi, mari kita simak sama-sama artikel di bawah ini.

Apa Itu Pertumbuhan Ekonomi?

Pertumbuhan ekonomi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan pendapatan yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah produksi barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi juga bisa diartikan bertambahnya pendapatan nasional dalam periode tertentu misalnya dalam satu tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi menunjukan peningkatan dari kapasitas produksi maupun jasa dalam kurun waktu tertentu.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat yaitu : Output yang meningkat, Perkembangan teknologi, Penyesuaian dan inovasi dalam bidang sosial.

Pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang penting di dalam kehidupan perekonomian. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat yaitu : Output yang meningkat, Perkembangan teknologi, Penyesuaian dan inovasi dalam bidang sosial. Dan berikut ini juga ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, diantaranya seperti di bawah ini:

  • Sumber daya manusia (SDM)

Sumber daya manusia adalah suatu faktor yang penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Karena SDM merupakan faktor yang penting dalam proses pembangunan, cepat atau lambatnya proses dari pembangunan sangat tergantung pada sumber daya manusianya yang selaku sebagai subjek pembangunan yang mempunyai kompetensi yang baik dan cukup memadai untuk melaksanakan proses dari pembangunan tersebut.

  • Sumber daya alam (SDA)

Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembangunan ekonomi apabila tidak didukung oleh kemampuan sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia.

Sumber daya alam yang dimaksud diantaranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut. Sumber daya alam tersebut harus diolah oleh sumber daya manusia yang berkompeten sehingga dapat dimanfaatkan secara bijak untuk kepentingan proses pembangunan.

  • Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin kesini semakin pesat khususnya di bidang teknologi, hal tersebut dapat mempengaruhi pembangunan atau pertumbuhan ekonomi suatu negara misalnya penggantian dalam menproduksi barang yang asalnya menggunakan tenaga manusia sekarang sudah banyak yang menggunakan mesin yang canggih dan modern yang tentunya akan lebih efisien dan lebih cepat dalam menghasilkan produk yang pada akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Negara-negara yang telah menggunakan pengembangan teknologi mampu tumbuh secara pesat dibandingkan dengan negara-negara yang tidak menggunakannya. Pemilihan teknologi secara tepat dan cermat dapat berperan dalam pertumbuhan ekonomi.

  • Sumber Daya Modal

Untuk meningkatkan kompetensi dari sumber daya manusia dan menambah ilmu pengetahuan serta teknologi, maka dibutuhkan sumber daya modal yang akan memperlancar proses pembangunan karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.

Pembentukan modal dapat meningkatkan ketersediaan modal untuk tenaga kerja yang dapat meningkatkan rasio modal atau tenaga kerja. Akibatnya, meningkatlah produktivitas tenaga kerja yang dapat menghasilkan peningkatan output serta pertumbuhan ekonomi suatu negara.

  • Budaya

Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN dan sebagainya.

  • Keadaan Politik

Faktor sosial terdiri dari adat istiadat, tradisi, nilai-nilai dan keyakinan, hal-hal tersebut dapat memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Kondisi politik suatu negara dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika kondisi politik suatu negara stabil dan berjalan denngan baik maka akan memberikan kenyamanan bagi para masyarakat serta dapat mendukung peningkatan kinerja dalam produksi.

  • Wirausaha

Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah seseorang yang dapat dan berani untuk mengambil risiko dalam melakukan suatu usaha guna mendapatkan keuntungan. Peranan wirausahawan dalam memajukan perekonomian sudah terbukti dari masa ke masa. Wirausahawan dalam melakukan investasi akan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan output nasional dan untuk meningkatkan penerimaan negara berupa pajak.

Lalu Bagaimana Cara Mengukur Pertumbuhan Ekonomi?

Pernahkah kamu berpikir bagaimana cara mengukur pertumbuhan ekonomi? Faktor yang diperhatikan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi adalah Produk Domestik Bruto (PDB) atau istilah internasionalnya adalah Gross Domestic Product (GDP). Gross Domestic Produk atau Produk Domestik Bruto adalah total produksi barang dan jasa yang dihasilkan dalam satu waktu tertentu di satu negara.

Caranya adalah total nilai dari barang dan jasa diratakan namun tentu hal tersebut dilakukan dengan memperhatikan jenis barang ataupun jasa tersebut. Selain itu ada juga pengaruh dari nilai pendapatan nasional dalam satuan harga yang disebut juga dengan PDB nominal. Setiap waktu nilainya bisa berubah-ubah dan sejalan dengan perubahan jumlah produksi dari barang ataupun jasa.

Selain itu juga, ada istilah nilai pendapatan nasional dalam satuan harga yang disebut PDB nominal. Nilainya berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan jumlah produksi barang dan jasa. Tingkat perekonomian yang semakin tumbuh ataupun menurun biasanya dihitung menggunakan angka presentase. Misalnya jika perekonomian meningkat 3 persen maka PDB juga naik sebesar 3 persen.

Apakah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Meningkat Di tahun 2018?

Sepanjang 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,07 persen, pencapaian itu lebih rendah dari target 5,2 persen. Presiden Joko Widodo pun mengatakan bahwa akan terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Ya angka berapa pun kita harus ditingkatkan lagi. Lebih banyak opportunity dan peluang-peluang itu harus kita ambil,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, mulai saat ini pemerintah akan menggenjot investasi di bidang apapun. “Sekarang ini saatnya untuk investasi dimulai di bidang apapun dan kasih kesempatan yang lain, di industri pertambangan, investasi di infrastruktur di bidang apapun,” kata Jokowi. Apalagi setiap hari, ia telah menginstruksikan para pembantunya di kabinet kerja untuk menyederhanakan aturan demi memudahkan investasi.

Data IMF menunjukkan, posisi Indonesia jauh berada di atas pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,5%. Indonesia berada di posisi tiga besar di kelompok negara G-20 bersama India (7,2%) dan China (6,6%). Jauh di atas negara besar lain seperti Australia (3,1%), Korea Selatan (2,7%), Amerika Serikat (2,3 %) dan Jepang (1,2%).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 yang tercatat sebesar 5,02 persen. Angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 tersebut mengindikasikan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 berada di kisaran 5,1 persen-5,5 persen. Pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017. Untuk inflasi, 3 persen plus minus 1 persen serta defisit neraca transaksi berjalan berada di bawah 3 persen.

“Pertumbuhan ekonomi di 2018 berada di rentang Rp 5,1 persen-5,5 persen. Dengan permintaan domestik sebagai motor utamanya. Adapun, pertumbuhan kredit sebesar 10 persen-12 persen dan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 9 persen-11 persen,” kata dia.

Dan sekedar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 sebesar 5,01 persen, tahun 2015 sebesar 4,88 persen dan tahun 2016 sebesar 5,03 persen. Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 adalah industri pengolahan, yakni 0,91 persen. Selain itu, disusul sektor konstruksi sebesar 0,67 persen, perdagangan 0,59 persen dan pertanian 0,49 persen.

Head of Intermediary PT Schroders Investment Management Indonesia, Teddy Oetomo memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan terus membaik di tahun ini (2018). Hal itu didukung dengan membaiknya perdagangan global dan pelonggaran kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang akan terus meningkat ini didorong oleh kebijakan pembangunan infrastruktur. Program pembangunan yang digenjot oleh pemerintah diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara cepat di masa mendatang. Hal ini seperti yang juga dialami oleh negara-negara yang menggenjot pembangunan infrastrukturnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global yang membaik menjadi salah satu katalis positif untuk ekonomi Indonesia. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 dinilai cukup realitis dan dapat tercapai.

Selain itu, momen pemilihan kepala daerah (pilkada) di 17 provinsi pada tahun 2018 diharapkan dapat mendongkrak daya beli masyarakat. “Belum lagi sekitar 100 lebih daerah juga akan melaksanakan pemilihan Kepala Daerah. Ini lebih besar dari Pilkada serentak 2017 lalu. Ada tiga Provinsi besar yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur yang populasi 30-40 persen dari total masyarakat Indonesia. Ini juga diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat di 2018.”

Akan tetapi, Pengamat Ekonomi Chatib Basri memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun ini hanya akan berada di kisaran 5,2 persen sampai 5,3 persen. Proyeksi ini di bawah target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

Lalu apa yang menjadi landasan Pengamat Ekonomi mengatakan hal tersebut?

Pertumbuhan ekonomi tahun 2017 juga memberi sinyal tren perbaikan ekonomi dibanding periode sebelumnya karena nyaris semua faktor penopang ekonomi tumbuh. Tapi, akankah tren pemulihan itu bakal berlanjut tahun ini? Tampaknya, pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang cenderung agresif di kisaran antara 5,4%–5,5%.

Memang, sektor manufaktur menunjukkan pemulihan. Menurut data BPS, tahun lalu manufaktur tumbuh 4,74% dan itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya. Problemnya adalah kelesuan daya beli masyarakat berpeluang menjadi batu sandungan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kelesuan konsumsi itu pula yang menjadi problem pemberat pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2017.

Jika konsumsi masih stagnan, namun pemerintah masih memiliki senjata lain. Yakni, akan mengejar pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun ini seperti yang sudah dijelasakan dengan menggenjot investasi dan ekspor. Namun, menggenjot ekspor bukan perkara mudah. Maklumlah karena pemulihan ekonomi global cenderung lambat. Itulah yang akan mempengaruhi sedikit banyaknya pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh lainnya adalah Keputusan The Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga serta tren kenaikan bunga obligasi Amerika Serikat yang menjadi sinyal ekonomi global belum pulih benar. Alhasil, situasi ini berpeluang membuat ekspor Indonesia stagnan. Itu sebabnya, Ekonom UI Chatib Basri memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 5,2%–5,3%.

Demikianlah ulasan di atas mengenai pertumbuhan ekonomi di negara tercinta kita Indonesia ini. Marilah bersama-sama kita membantu sedikit banyaknya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara kita agar mencapai target dan membuat Indonesia lebih maju lagi.